Kata-kata dan senyumannya selamanya akan tertanam dalam diriku. ...Sejak saat itu Dia akan datang dan mengunjungiku dari waktu ke waktu ketika Aku sedang berlatih. Sebagian besar waktu, Kami akan bercakapan secara singkat sebelum Dia pergi. Meskipun pada awalnya, Aku tidak merasakan apa-apa ketika Dia berkunjung, tapi perlahan-lahan dari waktu ke waktu, Aku mulai menantikan ketika Dia berkunjung.
Sesuatu yang Aku anggap wajar, Dia berulang kali memuji itu menjadi luar biasa dan hebat. Kata-kata itu menjadi doronganku, dan Aku semakin bersemangat dengan pelatihanku. Meskipun Aku tidak ragu bahwa Aku akan memberikan pedangku kepada Keluarga Kerajaan, Tapi Aku telah memikirkan untuk mendedikasikannya kepadanya.
Pada saat Aku menyadari itu adalah cinta, Dia sudah bersama dengan Pangeran Kedua, Edward-sama. Aku merasa sedih pada awalnya, tapi perasaan ingin melindungi dirinya dan menyadari keyakinan bahwa Aku telah berpendidikan sejak muda tidak bertentangan, perasaanku sedikit tentang. Mulai sekarang Aku akan melindunginya. Benar, Aku bersumpah di hatiku.
Oleh karena itu, ketika Edward-sama dan Nona Yuri menghadapi Putri Seorang Duke, Nona Iris, yang menindas Nona Yuri, Aku memilih untuk berpihak pada Nona Yuri. Ketika Nona Iris berhasil diusir, Aku pikir Aku mampu melindunginya... Benar, ini adalah yang Aku pikirkan untuk sementara wkatu.
***
"Kau, apa yang Kau pikir sudah Kau lakukan."
Ketika Aku berpikir kenapa Ayahku tiba-tiba memanggilku, itu adalah hal pertama yang dia katakan. Tidak tahu apa yang Dia maksud, Aku memiringkan kepalaku ke samping dan melihatnya dengan kebingungan, Dia kemudian mengeluarkan nafas yang berlebihan.
"Aku mengacu pada Insiden dengan Putri Duke Armelia!"
"... Saya tidak mengerti kenapa hal itu akan membuat Anda berteriak seperti itu."
"Apa Kau serius menanyakan alasannya padaku?"
"Ya."
"Selain fakta bahwa yang memperbolehkanmu untuk mengangkat tanganmu melawan Putri Seorang Duke, untuk Seorang Pria yang bertujuan untuk menjadi Seorang Kesatria telah benar-benar mengangkat tangannya melawan Seorang Wanita, Bagaimana mungkin Kau masih tetap menentang? Kau, Aku pikir Kau bangga dengan ajaran-ajaran Kesatria."
"Namun, Putri Duke Armelia menindas Putri Baron, Nona Yuri."
"Apa Kau benar-benar melihat Dia ditindas dengan matamu sendiri?"
"T-tidak... Tapi mengabaikannya sebagai rumor tidak jelas..."
"Apa Kau sendiri yang meluangkan waktu untuk berkolaborasi? Atau Kau berada di tempat kejadian ketika itu terjadi?
"T-tidak..."
"Aku marah padamu, setidaknya! Untuk benar-benar mengangkat tangan melawan Seorang Wanita tanpa bukti nyata. Selain itu, Dia adalah tunangan Pangen Kedua. Kau telah mencemarkan martabat Kesatria! Meskipun Kau masih bagian dari Keluarga ini, Kau telah menodai Kode Kesatria."
"Namun, Saya...!"
"Aku tidak ingin mendengarkan alasanmu! Tetap di rumah dan luangkan waktu untuk menenangkan pikiranmu!"
Sebelum Aku bisa mengatakan apapun sebagai jawaban, Seorang Kepala Pelayan membimbingku ke sebuah runagan untuk dikurung. Setelah itu, Aku ditempatkan di bawah tahanan rumah dan mengambil cuti dari akademi. Aku tidak diizinkan untuk berlatih, dan tidak melakukan apapun, Aku tetap tinggal di kamar dengan linglung.
Aku tidak mengerti kenapa Aku menerima perlakuan semaca ini. Satu-satunya hal yang ingin Aku lakukan adalah melindunginya. Tapi, kata-kata yang Ayahku katakan, "Kau telah menodai Kode Kesatria," mengalir melalui kepalaku secara berulang-ulang.
Saat itu, Ibu tiba-tiba memanggilku.
***
"Sudah lama, Dorsen"
Ketika Ibuku mengatakan itu, Aku menyadari bahwa sudah lama sejak Aku bertemu dengan Ibuku. Setelah mengambil cuti dari Akademi dan ditempatkan di bawah tahanan rumah, Aku belum pernah meninggalkan ruangan.
"...Sudah lama sekali."
Didepanku ditempatkan secangkir teh dan coklat kue teh yang belum pernah Aku lihat sebelumnya disajikan di piring.
"Benda itu, namanya coklat. Baru-baru ini populer di Royal City... Tolong cobalah untuk makan."
Aku mengambil satu dan memakan sepotong yang direkomendasi Ibu. ...Sangat lezat. Rasanya manis tapi sedikit pahit pada saat yang sama, rasanya sangat rumit.
"Produk ini ditangani oleh konglomerat yang dijalankan oleh Keluarga Duke Armelia."
"...Duke Armelia..."
"Rumor mengatakan bahwa Putri seorang Duke, Iris-sama, yang merupakan Kepala Konglomerat itu"
Ketika Ibu menyebutkan Nama Putri Duke, Nona Iris, Dia terlihat sedikit sedih.
"Hei, Dorsen. Bisakah Kamu dengan jujur membusungkan dadamu dengan bangga dan mengatakan Kamu melakukan 'hal yang benar?'"
"Melakukan hal yang benar...?"
"Ya, itu benar. Sejujurnya, perilakumu adalah masalah besar bagi Keluarga Kita, baik secara politik maupun dalam hal hubungan. Ketika mempertimbangkan semua itu, bisakah Kamu tetap mengatakan Kamu melakukan hal yang benar?"
Aku tidak mengerti arti sebenarnya dari kata-kata Ibu. Aku melakukan hal yang benar... atau kurang lebih begitu kupikir. Setelah Aku ditempatkan dalam tahanan Rumah, Aku dengan serius memikirkan arti kata-kata Ayah tentang menodai Kode Kesatria.
Pada akhirnya, Aku mencapai kesimpulan bahwa... Ayah marah padaku dan ingin Aku mempertimbangkan kedudukan sosial Keluarga Katabelia sebagai Bangsawan. Jika itu masalahnya, tidak ada alasan bagiku untuk malu dengan tindakan yang kuambil. Karena Aku mampu melindunginya, dan itu tidak ada hubungannya dengan Keluargaku.
"Bagiku, Dorsen. Maafkan Aku karena tidak sopan, Tapi mengenai masalah ini, Aku benar-benar bersimpati dengan Putri Duke, Nona Iris."
"Kenapa begitu, Ibu."
"Ketika Kamu mempertimbangkan semua hal, Putri Baron, Yuri Noir, melihat Seorang Pria yang sudah bertunangan dengan orang lain... Apa tunangannya tidak melakukan apapun untuk mencegahnya diambil darinya? Sebagai Seorang Wanita, Aku pikir yang dilakukan Putri Duke, Nona Iris, tidak bisa dihindari. Wanita lain mendekati Seseorang yang Dia tunangi dan cintai. Perasaan seperti cemburu dan kesedihan mulai mengalir keluar, dan siapa yang bisa menyalahkannya karena menyalurkan semua perasaan itu pada Nona Yuri?"
"Itu..."
"Orang yang dicintainya diambil darinya. Dan karena semua orang menghadapi dan mengutuknya di depan banyak orang, Dia juga diusir dari masyarakat."
Tiba-tiba, Aku teringat kata-kata terakhir yang Dia katakan sebelum meninggalkan Akademi.
"Aku ingin tahu apa Anda masih akan terus merampasku lebih jauh. Tunanganku, Posisiku..."
Dia mengucapkan kata-kata itu sambil menangis.
"Bagiku, Aku menganggap kue teh ini sebagai representasi dari resolusinya. Resolusi untuk tidak menikahi siapapun, dan bersiap untuk hidup sendirian. Terlepas dari pertunangannya yang dibatalkan Dia juga diusir dari masyarakat. Tentunya, akan sulit untuk bertunangan udengan orang lain. Hei, Dorsen. Kamu mengangkat tangan pada Wanita seperti itu, mempersulit hidupnya sejauh itu, dan memukulnya saat Dia sudah terjatuh. ...Dengan tindakan seperti itu, bisakah Kamu benar-benar mengatakan Kamu pantas sebagai seorang Kesatria?"
"Itu..."
Aku tidak bisa membantahnya. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku tidak pernah berpikir bahwa Dia mungkin telah menderita atau semacamnya... Aku pikir itu wajar baginya untuk menderita.
"Apa Kamu puas melindungi Orang kesayanganmu? Apa Kamu memoles pedangmu hanya untuk itu saja? Ketika ada Seorang Wanita tak berdaya yang menderita tepat di depan matamu, dan Kamu mengangkat tangan ke arahnya, Aku ingin tahu apa Kamu benar-benar puas."
Setiap kata yang Ibu katakan menusuk hatiku lebih dalam dan semakin lebih dalam. Semakin Aku berpikir... semakin Aku pikir Dia benar. Tapi, Aku tidak bisa memutar kembali waktu.
"Karena Ibu bukan Kesatria, Aku tidak bisa memahami sumpah dan kode mereka. Meskipun Aku tidak bisa paham dengan mereka, yang Aku tahu adalah hal yang Kamu lakukan pada Nona Iris hanyalah kekerasan murni."
Ketika Ayah menegurku, roh memberontakku membara. Tapi apa yang ada di hatiku sekarang adalah kebingungan dan penyesalan.
"Tolong renungkan tindakan yang Kamu ambil."
***
Setelah percakapanku dengan Ibu, karena tidak pantas untuk terus absen dari Akademi, Aku kembali ke akademi. Meskipun Aku menghadiri kelas, seperti biasa, Aku langsung menuju ke tempat pelatihan sesudahnya. Aku ingin menjernihkan pikiranku. Mungkin karena kata-kata Ibu atau mungkin kata-kata Nona Iris, yang manapun itu, Aku ingin melarikan diri darinya sehingga itu akan menghentikanku. Sementara terasing dari Edward-sama dan Nona Yuri. Aku lulus dari Akademi.
Setelah kelulusan, Aku memasuki Ordo Kesatria sebagai Knight Appretince seperti yang direncanakan. Setelah itu, Aku menghabiskan setiap hari yang memuaskan dihancurkan oleh para senior dan belajar dari mereka.
Suatu hari, Aku menerima dari Militer untuk berpatisipasi dalam pertempuran pura-pura. Sejujurnya, Aku ingin tahu kenapa Aku? Meskipun Aku mempunyai keraguan tentang undanganku, Aku menyatakan minatku untuk berpatisipasi.
Dan Orang yang muncul adalah Jenderal Gazelle. Meskipun Dia adalah seseorang dari Militer, Dia juga seseorang yang dikagumi oleh anggota Ordo Kesatria. Dan orang-orang yang berdiri di sisinya adalah Dua muridnya. Ketika dia menyebutkan murid-muridnya, baik Ordo Kesatria dan Militer mulai menjadi berisik. Sejujurnya, bahkan jika Seseorang ingin menerima pelatihan individu dari Jenderal Gazelle, itu hampir tidak mungkin. Karena orang itu sendiri sangat populer.
Saat semua orang memperhatikan ketika orang itu dengan penuh perhatian, Pertarungan dimulai. Sangatlah menarik untuk menonton setiap pertarungan. SKor saat ini adalah dua kemenangan dan Dua kekalahan... Karena berikutnya adalah giliranku, Aku mulai merasa tegang. tepat didepanku, adalah Seseorang dari Militer. Ketika keteganganku mencapai titik tertinggi, dan tanda untuk memulai pertarungan berbunyi, Aku tidak menyangka bahwa Aku akan berakhir bersaing dengan Dua murid Jenderal Gazelle. Dan bertarung bersama mereka dan Seseorang dari Militer.
...Menarik. Itulah yang Aku pikirkan. Untuk bersang dengan Dua orang yang menerima pelatihan pribadi dari Jenderal Gazelle, yang Aku kagumi... Aku ingin tahu seberapa jauh Aku bisa bertarung dengan kekuatanku.
***
Saya Puas dengan membaca perspektif Dorsen di chapter ini, chapter selanjutnya masih dalam perspektif Dorsen.